Sabtu, 12 Mei 2012

Gambaran Pergerakan Perubahan Sosial Budaya dan Kebijakan

Pada masa lalu, dimana transportasi fisik sukar dilakukan dan berjalan sangat lambat, transfer informasi & pengetahuan menjadi sangat lambat. Pada tahapan ini, umat umumnya tidak terlalu pandai, tingkat penguasaan pengetahuan kurang. Akibatnya, jalur komando & perintah menjadi sangat dominan, karena memang sulit mengandalkan aparat yang berada di bawah untuk mengambil keputusan sendiri dengan keterbatasan pengetahuan yang dimilikinya. Sadar atau tidak, pada akhirnya struktur masyarakat terbentuk mengandalkan struktur kekuasaan & kekuatan (power), tampuk pimpinan berada di atas seringkali menentukan banyak hal sedang aparat dibawahnya menjalankan perintah dan kemauan dari elit pimpinan yang ada di atasnya. Baginda raja, wedana dsb membentuk sebuah struktur komando yang bersifat kerucut untuk menjamin berlaku dengan baiknya law & oder di antara umat. Dominasi hukum tertulis yang dibuat oleh elit penguasa negeri menjadi sangat tinggi. Segala sesuatu, jika mungkin hingga hal sekecil-kecilnya di atur menggunakan hukum tertulis dengan tingkat punishment yang jelas & menjadi acuan kehidupan sehari-hari umat. Reward? Hmmm kadang kala tidak jelas, sudah untung umat diberikan hak hidup & berusaha di negeri tersebut.

Dengan semakin tersebarnya pengetahuan melalui sistem pendidikan yang ada, tingkat sosial & budaya berkembang. Umat tidak bisa lagi menerima perlakuan represif semena-mena di atur oleh elit tirani penguasa yang berlindung dibalik konstitusi, hukum tertulis. Mekanisme feedback / umpan balik dibangun secara perlahan untuk mengontrol kerja dari sekelompok elit tirani penguasa. Memang sulit sekali untuk membangun mekanisme umpan balik ini, apalagi dengan sekian banyaknya umat - mekanisme-mekanisme perwakilan berbasis partai, ideologi, golongan disahkan untuk mewakili suara umat. Proses pencarian legitimasi menjadi seni tersendiri. Semua harus diatur dengan baik agar adil karena platform yang digunakan masih lambat dalam menyalurkan informasi & pengetahuan. Kompromi politik, konsensus menjadi alternatif menarik dalam mekanisme kontrol untuk mencapai berbagai kesepakatan antara elit penguasa dengan perwakilan umat. Tampak bahwa bentuk-betuk konsensus, kompromi, hukum tidak tertulis menampakan wujudnya dengan semakin transparan informasi & pengetahuan ke sebagian besar umat.

Apa yang akan terjadi dengan semakin cepat & effisiennya transfer informasi & pengetahuan di platform yang kita gunakan? Pada platform dengan kemampuan transfer informasi yang cepat, kemampuan untuk berdiskusi, berargumentasi dengan baik, merepesentasikan sebuah konsep / pendapat kepada umum secara tertulis menjadi penting. Substansi informasi & pengetahuan yang mendominasi transaksi di platform Internet, seseorang akan dihormati terutama dari isi, kualitas, substansi informasi yang dia kirimkan melalui Internet. Penampilan fisik, jas, dasi, kendaraan mewah, rumah mewah, kantor yang bergengsi menjadi dipertanyakan kebutuhannya. Penghargaan kepada seseorang akan lebih bertumpu kepada pengetahuan yang dimiliki-nya yang disertai dengan kemampuan menyampaikan informasi & pengetahuan kepada sesama umat. 

Komunikasi yang cepat dengan mudah menembus berbagai struktur & birokrasi yang biasanya dibangun oleh struktur masyarakat lama yang berbasis pada platform informasi yang lambat. Umat dengan mudah berkomunikasi satu dengan lainnnya, komunitas akan dibentuk oleh forum-forum silaturahmi, diskusi, interaksi antar umat. Umat dapat dengan mudah berkomunikasi dengan "wakil"-nya di dunia konvensional maupun dengan elit penguasa kalau saja para "wakil" & elit penguasa mau membuka dirinya.

Dengan semakin effisien-nya komunikasi antar umat - sering kali kita yang aktif di Internet akhirnya akan bingung sendiri, apakah kita masih memerlukan mekanisme perwakilan? Platform informasi yang cepat memungkinkan sekali bagi setiap orang untuk menyuarakan pendapatnya, isi hatinya tanpa perlu mekanisme distribusi / perwakilan. Konsep one man one vote dapat dilaksanakan oleh seluruh komunitas di Internet secara demokratis yang murni (bukan perwakilan). Eksistensi konsep DPR & MPR menjadi dipertanyakan di platform informasi yang cepat. Kenyataannya dengan platform informasi yang cepat akan mensejajarkan umat satu sama lain, setiap orang tidak lebih tinggi tidak lebih rendah dengan lainnya, persamaan hak menjadi nyata sekali.

Jangan kaget jika kita jelajahi lebih lanjut berbagai konsekuensi yang akan ditimbulkan dengan mengubah platform tempat kita berpijak ke platform dengan kecepatan transfer pengetahuan & informasi yang demikian cepat bukan mustahil akan mengubah dominasi hukum tertulis, bahkan bukan tidak mungkin akan menghilangkan sama sekali hukum tertulis. Transparansi ekstrim bukan mustahil pada akhirnya membuat proses konsensus & hukum adat menjadi sangat dominan. Eksposure setiap tindak kejahatan ke segenap umat secara transparan ekstrim bukan mustahil akan menekan tindak kejahatan lainnya. Akan lebih baik lagi, jika pada ahkirnya proses transparansi ini akan mengubah paradigma umat dan mendekatkan diri pada Khaliq-nya sehingga pada norma, nilai, value, iman & taqwa yang vertikal menjadi tonggak yang kokoh di hati umatnya.

Perlu dicatat bahwa perubahan mendasar juga terjadi pada berbagai masalah, adanya usaha independent regulatory body di dunia telekomunikasi (menggunakan mekanisme konsensus), adanya copyleft (konsensus) vs. copyright (hukum tertulis), badan akreditasi (hukum tertulis) vs. avknolwdgement masyarakat (konsensus).

Keimanan menjadi tolok ukur yang sangat penting pada pilar vertikal yang ada. Kepada apa kita beriman? Uang? Kekayaan? Kekuasaan? Kecantikan? ….. atau pada Allah SWT? Tentunya akan berbeda effek-nya kepada pilar horizontal yang ada jika keimanan ini masih dipengaruhi oleh aspek duniawi dengan jika kita ikhlas & berserah diri kepada Allah SWT semata.

Pada tahapan tertinggi dari pilar vertikal ini, manusia harusnya kembali kepada fitrah-nya di muka bumi sebagai khalifah yang secara horizontal beramal kepada sesama umat, secara vertikal beribadah kepada-Nya. Rizki harusnya disesuaikan dengan amal yang dilakukan, sedang tingkat ibadah akan menentukan pahala yang akan diperolehnya. Sederhana untuk dikatakan, amat sulit untuk dilakukan.

CyberLaw : Filosofi "Hukum" di Dunia Maya

Internet sering di asosiasikan sebagai media tanpa batas. Dimensi ruang, birokrasi, waktu, kemapanan dan tembok struktural yang selama ini ada di dunia nyata dengan mudah di tembus oleh teknologi informasi. Demokratisasi, keterbukaan, kebebasan berbicara, kompetisi bebas, perdagangan bebas yang diimbangi oleh kemampuan intelektual & profesionalisme yang tinggi menjadi ciri khas dunia informasi mendatang di era globalisasi.

Sampai seberapa jauh sebetulnya batas dari masyarakat dunia maya (Internet)? apakah memang betul-betul tanpa batas sehingga seseorang dapat dengan sesuka hatinya memaki orang lain? mengkritik kebijakan pemerintah tanpa data, solusi & pemikiran yang matang? sesuka hatinya untuk menayangkan & mengambil gambar porno? mencuri informasi dan likuid maya tanpa ada teguran, peringatan & hukuman?

Secara logika, hati nurani kita jawab pasti ada sesuatu yang akan membatasi interaksi dalam dunia maya ini. Apakah sesuatu itu? Pada kesempatan ini, saya mencoba melihat filosofi dasar dari pembatas yang ada dalam dunia maya. Sebetulnya secara filosofis pembatas yang ada dalam dunia maya tidak berbeda terlalu jauh dengan pembatas dalam dunia nyata. Perbedaan utama yang menyebabkan dunia maya berbeda dengan dunia nyata adalah dari sisi kecepatan transfer data, informasi & ilmu pengetahuan. Kecepatan ini demikian tinggi sehingga beberapa hal / batasan yang tadinya tidak tampak pada dunia nyata akan menampakan dirinya pada sisi ekstrim yang sebagian tampaknya merusak.

Baiklah, apakah pembatas tersebut? Ada empat (4) hal utama yang menjadi komponen utama dari pembatas dunia maya (seperti halnya dunia nyata), yaitu:

Hukum / perundangan (law) itu sendiri.
Norma.
Kondisi Pasar.
Arsitektur dari platform tempat masyarakat berinteraksi.

Dari ke empat (4) hal ini hanya arsitektur / platform yang mungkin kurang familiar bagi sebagian besar dari pembaca. Arsitektur disini merupakan tatanan kondisi fisik tempat masyarakat berinteraksi. Pada dunia nyata kita saat ini, interaksi dilakukan menggunakan surat, telepon, FAX. Kadang-kadang arsitektur yang kita gunakan saat ini tidak selalu berbaik hati (user friendly), misalnya, jika kita berusaha menelepon, mengirim surat, mengirimkan FAX ke Bapak Presiden, Wakil Presiden, para menteri dan anggota MPR / DPR - kita semua tahu & yakin bahwa sebuah sistem akan melakukan kontrol untuk memfilter surat / telepon/ FAX yang kita kirimkan tersebut. Arsitektur dunia nyata memang di rancang untuk melakukan proses filtering & proteksi.

Akan tetapi arsitektur dunia nyata yang kita gunakanpun tidak selamanya kurang baik, beberapa usaha tampak dilakukan untuk memperbaiki seperti usaha untuk dialog antara para mahasiswa dengan petinggi negara secara langsung. Proses perwakilan terpaksa di anut karena tidak mungkin seluruh mahasiswa di Indonesia yang jumlahnya hampir dua (2) juta orang dapat berdialog langsung dengan petinggi negara. Disini terasa sekali keterbatasan dimensi ruang, dimensi waktu, birokrasi dan kemapanan.

Berbeda sekali dengan arsitektur dunia nyata, dalam dunia maya arsitektur yang digunakan dibangun dalam program-program komputer. Web, E-mail, Internet merupakan komponen-komponen program komputer yang sengaja ditulis & dikembangkan untuk digunakan dalam proses interaksi masyarakatnya. Karakteristik dari arsitektur dunia maya tentunya akan sangat tergantung dari si programmer. Tentunya programmer  tersebut juga terkait dalam hubungannya dengan hukum (law), norma dan kondisi pasar / permintaan masyarakat. Keterkaitan ini akan tampak dengan jelas & sangat memperngaruhi arsitektur yang dibentuk.

Pada sisi ekstrim, arsitektur yang di program dalam dunia maya dapat sangat terbuka dan hampir tidak dibatasi secara logic. Hal ini yang memungkinkan /memudahkan proses interaksi masyarakat berlangsung secara cepat. Aliran informasi terjadi dengan kecepatan tinggi. Dalam dunia maya, demokratisasi dapat terjadi dengan mudah karena paradigma perlunya perwakilan menjadi hilang - dua (2) juta mahasiswa di seluruh Indonesia dapat langsung berinteraksi dengan Presiden Republik Indonesia, berbicara langsung dengan para menterinya bahkan mengajukan gagasan & pandangan kepada badan tertinggi negara di MPR / DPR. Arsitektur yang dibangun oleh programmer dunia maya memungkinkan hal ini terjadi dengan mudah. Proses demokratisasi, de-birokratisasi terjadi secara alamiah.

Apakah dengan arsitektur demikian terbuka maka Hukum (law), Norma dan pasar jadi di tinggalkan? Jelas tidak, bahkan menjadi lebih mengakar. Justru dengan berinteraksi langsung melalui arsitektur maya ini, kita semakian berhati-hati dalam mengkritik, memaki seseorang karena nama baik pribadi-pribadi pengkritik akan menjadi buruk dengan cara mengeluarkan kata & ungkapan yang kurang baik. Berbeda barangkali dengan proses demokratisasi dunia nyata, kita mengenal demonstrasi, pidato yang berapi-api bahkan makian-makian yang baragkali memalukan untuk di dengar. Akan tetapi pihak yang dikritik mungkin kurang merasakan hal ini karena berita yang diperoleh umumnya hanya berupa intisari dari media massa misalnya. Disini terlihat justru percepatan informasi & proses interaksi yang cepat akan menyebabkan proses dialog dilakukan secara dewasa & terbuka dengan berpegang pada norma yang berlaku.

Pada ekstrim yang lain, programmer dapat juga dengan mudah membatasi interaksi dalam dunia maya. Tidak selamanya interaksi yang bebas & terbuka akan menguntungkan pasar / masyarakat pengguna. Beberapa teknologi informasi saat ini telah berkembang & di adopsi misalnya teknik netwok security, encryption, authentication, firewall, IntraNet, ExtraNet dan masih banyak lagi dikembangkan justru untuk membatasi proses interaksi dunia maya. Dunia maya seperti halnya dunia nyata juga ada banyak orang yang tidak baik, suka mencuri, suka merusak - manusia jenis ini dikenal sebagai cracker di dunia maya. Adalah tugas programmer untuk menjamin bahwa dunia maya aman dari pengrusakan, pencurian ini. Dasar hukum, Norma yang dipakai dapat mirip dengan dunia nyata beberapa paradigma mendasar perlu diperhatikan supaya tidak terjadi monopoly & pemaksaan - konsensus & standard industri yang terbuka akan menjadi dominan dalam dunia maya.

Demikian tulisan singkat tentang filosofi dasar "hukum" di dunia maya. Hal ini lebih dikenal sebagai CyberLaw. Mudah-mudahan dapat memberikan sedikit gambaran tentang aspek non-teknis dari dunia maya.

Gambaran Sederhana Menjadi Terbaik Bertumpu IT

Menjadi yang terbaik adalah cita-cita mereka yang hidup dalam dunia yang sangat kompetitif. Bagi mereka yang hidup biasa saja, biasanya mengimpikan paling tidak menjadi lebih baik daripada apa yang ada sekarang ini. Sebuah impian & cita-cita yang sangat manusiawi, para mujahiddin mungkin pengecualian – mereka mempunyai impian yang lebih tinggi daripada sekedar terbaik duniawi.

Banyak hal yang mungkin dilakukan untuk mewujudkan cita & impian tersebut, sekolah & menuntut ilmu merupakan pola paling konvensional untuk meraih cita. Bagi dunia usaha yang sangat kompetitif, selain kepandaian / penguasaan pengetahuan tentunya harus di dampingi dengan ke trampilan, kecekatan-an, effisiensi proses usaha di samping tentunya kemampuan untuk penguasaan pasar / medan melalui berbagai cara / teknik.

Secara sederhana dapat di rangkumkan bahwa ada tiga (3) hal utama yang akan sangat membantu kita untuk menjadi yang terbaik, yaitu, (1) pandai, (2) effisien, dan (3) pemimpin yang menguasai pasar / medan. Pertanyaan selanjutnya, apakah mungkin ke tiga (3) faktor utama ini dilakukan menggunakan / bertumpu pada teknologi informasi? Jawaban singkat-nya adalah “Dapat!”, bahkan jika anda cukup pandai maka seluruh proses bertumpu pada teknologi informasi akan jauh lebih effisien & murah di bandingkan dengan menggunakan metoda konvensional. Mari kita tela’ah lebih jauh berbagai konsep ril yang bertumpu IT yang memungkinkan kita bisa menjadi yang terbaik.

Menjadi lebih effisien merupakan strategi standar di dunia usaha & pada saat ini telah banyak di implementasikan. Contoh sederhana adalah di bidang finansial & accounting perusahaan (yang sudah sejak lama berkenalan dengan komputer), effisiensi bergerak ke Management Information System (MIS), yang di integrasikan dengan berbagai unit dalam perusahaan / institusi menjadi Enterprise Resource Planning (ERP), dan tidak lupa mempertajam ujung tombak untuk menembus & meng-create pasar menggunakan peralatan bantu seperti Customer Relationship Management (CRM). Dengan berbagai tools di atas, maka mekanisme internal sebuah institusi / badan usaha di mungkinkan untuk menjadi lebih effisien. Tentunya perlu di ingat bahwa amat sangat naif jika kita membeli peralatan / tools di atas tanpa menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) di institusi / perusahaan agar dapat bersinergi secara optimal dengan dunia IT yang sangat maya & effisien. Mengubah paradigma berfikir & budaya manusia akan menjadi tantangan terberat dalam menginjeksi teknologi ke sebuah institusi / perusahaan (belum terhitung  masalah palak memalak & korupsi jika hal ini dilakukan di instansi pemerintah).

Untuk menunjang transaksi usaha antar institusi / badan / perusahaan, kita pada hari ini mulai diperkenalkan dengan berbagai konsep tentang e-commerce, e-business, e-marketing, e-dll.Pada dasarnya ada dua (2) teknologi yang menjadi motor proses transaksi online tsb. Teknologi yang paling mendasar adalah teknik keamanan / network security. Tanpa ada rasa aman / jaminan ke amanan maka sulit sekali untuk memperoleh kepercayaan (trust) dari semua pelaku / pemain yang ada. Tanpa ada kepercayaan (trust) maka akan sulit untuk mengharapkan terjadinya transaksi. Network security sendiri dapat di implementasikan dalam bentuk firewall, maupun berbagai teknik untuk membuat terowongan yang aman melalui Internet menggunakan protocol seperti SSL. Teknik authentikasi yang dapat menjamin keabsahan si penerima / pengirim menjadi penting sekali, implementasi dalam bentuk Certificate Authority, Registratin Authority, & Public Key Infrastructure menjadi sebuah standar pada hari ini. Teknologi ke dua yang menjadi sangat strategis adalah teknik transaksi online, teknik yang paling sederhana adalah Electronic Data Interchange (EDI), yang kemudian berkembang di kemas oleh XML, WML dll. Semua di mungkinkan dengan dukungan teknik database yang kuat di belakang-nya.

Selain effisiensi, menjadi pandai merupakan strategi konvensional untuk menjadi yang terbaik. Konsep pemandaian berbasis IT telah banyak di kembangkan, mulai dari yang sederhana seperti Computer Based Learning, Computer Assisted Instruction (CAI), hingga yang lebih kompleks seperti pendidikan jarak jauh, distance learning, dan akhir-akhir ini yang tampaknya lebih dominan, yaitu Knowledge Based Management (KM). Gilanya, beberapa rekan seperti Knowledge Management Research Group (KMRG) di ITB yang di pimpin oleh Sdr. Ismail Fahmi melepaskan software digital library-nya secara gratis di http://gdl.itb.ac.id. Dengan adanya knowledge infrastructure yang saat ini mulai beroperasi, konsep-konsep pembelajaran yang biasanya teaching based & sangat sentralistik kepada figur guru & dosen menjadi kadaluarsa. Kurikulum nasional DIKNAS menjadi usang & lebih baik di tinggalkan saja. Konsep learning based menjadi lebih dominan, guru / dosen menjadi fasilitator saja.

Implementasi Knowledge Management di perusahaan akan mendorong competitiveness si perusahaan / institusi. Knowledge sharing di fasilitasi untuk kepentingan competitiveness institusi, yang pada akhirnya menjadikan institusi tidak hanya  baik dalam effisiensi menjual servis ke masyarakat, tapi juga sebagai knowledge producer yang akan mendorong terciptanya pasar, demand & image di masyarakat akan kekuatan institusi tersebut. Knowledgeable leader merupakan typical leader di masa mendatang, seorang birokrat, administrator, manager hanya akan berada di belakang layar yang berfungsi mengeffisienkan kinerja institusi / perusahaan. Hanya knowledgeable leader yang akan berada di depan, di ujung tombak perusahaan / institusi dan mengarahkan si perusahaan menuju jalan yang lebih competitive & memenangkan kompetisi. Interaksi dengan masyarakat menjadi sangat penting sekali, kita tidak bisa hanya memberikan servis ke masyarakat / customer saja, edukasi, sosialiasi & interaksi dengan masyarakat akan memegang peranan penting untuk membangun komunitas yang berkiblat pada apa yang kita cita-citakan bersama. Kepiawaian si knowledgeable leader untuk menjadi public figure / public relation yang baik akan menentukan keberhasilan secara keseluruhan. Pertempuran tidak mungkin dimenangkan oleh mereka yang hanya effisien saja, hanya mereka yang effisien & smart yang akan menjadi pemenang.

Tampaknya sulit? Ah tidak juga. Pengalaman di lapangan menunjukan bahwa kunci utama dari semua ini adalah kemauan & keihlasan untuk berinteraksi, bersilaturahmi dengan sesama, dan ihlas men-share pengetahuan yang dimilikinya. Keaktifan untuk menjawab pertanyaan, memberikan komentar yang smart di berbagai mailing list Internet, dan masuk secara smart ke berbagai media menjadi kunci utama-nya. Proses ini berlangsung tidak dalam 1-2 hari saja, tapi dalam perioda lama beberapa bulan & tahun. Hati-hati, masyarakat / khalayak umum yang akan menilai anda di media Internet & media massa, bukan komisaris, pegawai & owner perusahaan anda. Masyarakat sangat kritis & terkadang sarkastik dalam menilai seseorang di media publik. Knowledgeable leader adalah mereka yang berhasil menggerakan publik & survive dari kawah Candradimuka publik di atas.

Agen Perjalanan dan Internet : Musuh atau Teman

Dengan semakin berkembangnya pemakaian Internet di seluruh dunia, terutama dengan pemakaian Internet sebagai media yang memungkinkan seorang wisatawan untuk langsung mengatur rencana perjalanannya dan membuat reservasi hotel dan jasa penerbangan, maka semakin ramai juga dibicarakan dampaknya Internet ini bagi agen-agen perjalanan (travel agents).  Bagaimana para anggota Internet memanfaatkan Internet dalam mengatur perjalanan/wisata mereka?  Trend apa yang bisa kita amati?  Bagaimana dampaknya terhadap industri agen perjalanan dan bagaimana langkah-langkah yang harus dilakukan oleh agen perjalanan sehubungan dengan semaraknya Internet ini?  Dan bagaimana dengan dengan agen-agen perjalanan di Indonesia?

Sedikit mengenai Internet   
Dimulai pada tahun 1969 sebagai sebuah eksperimen yang dibiayai oleh bagian penelitian dari Departemen Pertahanan Amerika Serikat, Internet telah berkembang menjadi suatu jaringan komputer yang mempersatukan seluruh dunia.  Internet telah menjadi media komunikasi standar antara lebih dari 40.000 organisasi, menghubungkan lebih dari 20 juta orang di seluruh dunia.  Para anggota Internet bisa saling bertukar informasi dengan menggunakan surat dan papan buletin elektronik, membaca katalog, melihat jadwal penerbangan, memesan hotel dan cruise, dan banyak lagi.

Berapa orang sebenarnya anggota Internet sekarang ini?  Matrix Information and Directory Service (MIDS), sebuah organisasi yang ternama, mengadakan survei mengenai demografi Internet pada bulan Oktober 1995.  MIDS mengklasifikasikan para anggota Internet ke dalam tiga kategori:
  1. Inti (Core) Internet : berjumlah 17 juta orang dan berhubungan melalui 7 juta komputer.
  2. Konsumen (Consumer) Internet: berjumlah 26 juta orang dan berhubungan melalui 10 juta komputer.
  3. Matriks, yaitu orang-orang yang mempunyai akses ke email, berjumlah 39 juta orang.  

MIDS berpendapat bahwa Matriks tidak termasuk ke dalam kelas anggota Internet, sehingga anggota Internet itu jumlahnya sekitar 26 juta orang pada bulan Oktober 1995.

Penetrasi Internet ini juga sudah sangat tinggi, terutama di negara-negara Eropa dan Amerika.  Menurut hasil penelitian Killen & Associates yang Finlandia, misalnya, mempunyai satu komputer yang berhubungan dengan Internet untuk setiap 24 orang penduduk.

Selain itu, majalah terkemuka dari Inggris, the Economist, dalam analisanya mengenai Internet yang diterbitkan pada bulan Juli 1995, menulis bahwa berapapun jumlah yang sekarang, dalam waktu satu tahun, jumlah itu akan berlipat dua, dengan target setidaknya sekitar 100 juta orang pada awal tahun 2000.   

Yang lebih penting lagi, Intelligence Unit dari majalah Economist ini, dalam laporannya mengenai hubungan Internet dan pariwisata menyimpulkan bahwa teknologi informasi Internet ini mempunyai dampak yang bersifat fundamental dan luas dalam mekanisme pemasaran, distribusi, penjualan, dan penyampaian travel, karena pada dasarnya bisnis utama di belakang travel adalah informasi. (“fundamental and far reaching impact on the way travel is marketed, distributed, sold and delivered simply because the real business behind travel is information")

Fungsi Agen Perjalanan Sekarang
Untuk dapat menganalisa dengan mendalam hubungan antara agen perjalanan dan Internet, mari kita coba terlebih dahulu untuk mengerti jasa apa yang disediakan oleh sebuah agen perjalanan.  Mari kita lihat dua buah contoh.

Contoh pertama:  Ibu Esther.  Ibu Esther adalah seorang eksekutif di sebuah perusahaan swasta besar yang mempunyai kantor di berbagai kota di Indonesia. Setiap bulannya, tugasnya membuat ia harus berada di Medan selama 3 hari, di Semarang 2 hari, di Bali 3 hari, di Ujung Pandang 2 hari, di Ambon 3 hari, dan sisanya di kantor pusat di Jakarta.  Setiap bulan jadwal Ibu Esther adalah seperti ini.  

Bagaimana seorang agen perjalanan membantu Ibu Esther?  Pertama, membuat reservasi penerbangan dan mengeluarkan tiket pesawat.  Kedua, membuat reservasi hotel di kota yang dituju.  Ketiga, membuat reservasi untuk menyewa mobil dan telpon genggam di kota yang dituju.  

Contoh kedua:  Bapak Agus.  Setiap tahun Bapak Agus mempunyai waktu cuti 2 minggu, dan selalu ingin berwisata ke berbagai daerah, baik di dalam maupun di luar negeri.  Tahun lalu Bapak Agus dan keluarganya berlibur ke Perancis, tahun sebelumnya di Canada, dan tahun sebelumnya lagi di Bali.  

Bagaimana seorang agen perjalanan membantu Bapak Agus?  Pertama, seorang agen perjalanan menjadi sumber informasi bagi Bapak Agus dan keluarganya.  Sang agen mengetahui kira-kira tipe liburan yang bagaimana yang disukai Pak Agus, kelas hotel yang bagaimana, atraksi atau jenis keindahan alam yang bagaimana yang disukai oleh Pak Agus dan keluarganya, dan berbagai hal lainnya mengenai Pak Agus.  Di samping itu, sang agen mengetahui berbagai daerah tujuan wisata serta atraksi dan daya tariknya masing-masing, sehingga ia bisa memberikan rekomendasi kepada Pak Agus.  Sang agen bisa mengatur jadwal perjalanan Pak Agus, dengan rekomendasi tempat dan atraksi yang menarik, lengkap dengan mengatur semua reservasi penerbangan, hotel, mobil, dan visa ke negara tersebut.

Apa persamaan dari kedua contoh ini?  Yang jelas adalah bahwa sang agen perjalanan adalah orang yang melakukan transaksi reservasi jasa penerbangan, hotel, mobil, dan sebagainya.  Sang agen adalah seorang perantara yang dipercayai oleh sang wisatawan untuk melakukan transaksi dengan industri dunia pariwisata yang menyediakan jasa penerbangan, hotel, dan sebagainya. 

Perbedaannya?  Dalam contoh kedua, sang agen berfungsi lebih dari sekedar perantara.  Sang agen berfungsi sebagai konsultan, menawarkan daerah tujuan wisata sesuai dengan selera sang wisatawan.  Sang agen menawarkan nilai tambahnya sebagai seorang yang berfungsi sebagai filter dan selektor dalam menganalisa informasi yang jumlahnya sangat banyak mengenai daerah-daerah wisata, atraksi dan daya tarik setiap daerah wisata.  

Bagaimana fungsi seorang agen perjalanan dalam prakteknya sehari-hari - apakah ia hanya berfungsi sebagai perantara/order-taker atau sebagai seorang konsultan yang mempunyai pengetahuan mendalam mengenai daerah-daerah wisata dan selera kliennya - akan menentukan apakah ia akan berteman atau bermusuhan dengan Internet.

Agen Perjalanan dan Internet: Musuh?
Ada berbagai reaksi yang terlihat dari para agen perjalanan dan asosiasinya melihat maraknya Internet ini.  Pertama, seperti yang sering terjadi dalam dunia psikologi klasik, adalah tolakan.  Internet ditolak sebagai sesuatu yang relevan bagi dunia agen perjalanan.  

Reaksi kedua yang umum adalah menganggap bahwa Internet itu akan menggantikan fungsi agen perjalanan.  Reaksi ini dimulai dengan ramai karena beberapa perusahaan penerbangan besar di Amerika Serikat tiba-tiba menentukan bahwa komisi yang akan mereka berikan untuk agen perjalanan dibatasi hanya maksimal US$ 50 untuk satu perjalanan. 

Analogi yang sederhana di sini adalah nomor telpon bebas pulsa yang dikenal di Amerika Serikat dengan nomor 1-800.  Setiap hotel dan setiap perusahaan penerbangan menyediakan fasilitas nomor 1-800 yang bisa ditelpon oleh orang yang ingin membuat reservasi penerbangan atau hotel.  Sewaktu fasilitas 1-800 ini diperkenalkan, para agen perjalanan juga banyak yang ribut, menduga bahwa fasilitas ini akan membuat pekerjaan mereka tidak diperlukan lagi.  Ternyata yang dikhawatirkan tidak menjadi kenyataan.  Memang benar banyak reservasi yang datang langsung dari pelanggan melalui 1-800 ini.  Tapi sebagian besar orang akan tetap memakai jasa seorang agen perjalanan.

Kenapa?  Katakanlah Pak John dari Pittsburgh ingin ke New York City.  Setidaknya ada 5 jasa perusahaan penerbangan yang melayani route PIT ke JFK.  Di New York City, katakanlah ada 5 hotel berbintang 3-5 di daerah Selatan Manhattan.  Untuk mencari harga terbaik, berarti Pak John harus menelpon 5 hotel dan 5 perusahaan penerbangan.  Menelpon seorang agen perjalanan jelas akan lebih efisien bagi Pak John.  Belum lagi ditambah dengan kenyataan di mana sang agen perjalanan mungkin mengetahu promosi atau diskon khusus yang berlaku pada saat Pak John ingin ke New York.

Memakai contoh kita di atas, jelas bagi Ibu Esther yang tahu pasti akan memakai pesawat Garuda dari Jakarta ke Medan setiap hari Rabu sore dan akan tinggal di Hotel Tiara Medan, ia tidak memerlukan jasa travel agen yang hanya berfungsi sebagai order taker kalau semua ini bisa ia lakukan dengan cepat melalui komputer di tempat kerjanya.  Dengan fasilitas tiket elektronik yang sudah mulai menyebar di Amerika, Ibu Esther bahkan tidak akan perlu lagi memegang tiket pesawat.  Dengan mouse klik beberapa kali, semua urusan perjalanannya beres.  Seandainya harus menghubungi seorang agen perjalanan, mungkin dia sedang tidak berada di tempat; harus memakan waktu untuk mengambil tiket ke tempat sang agen, dsb.  

Dampak Internet yang paling sederhana adalah tuntutan bahwa setiap agen perjalanan harus mampu mengintegrasikan pemakaian Internet sebagai media komunikasi untuk menjangkau dan melayani konsumennya.  Ibaratnya mesin fax, saat ini sebuah agen perjalanan yang tidak memanfaatkan mesin fax akan kalah bersaing dengan agen-agen perjalanan lainnya yang memanfaatkan mesin fax dengan maksimal.  Demikian juga dengan Internet.  Tanpa Internet, sebuah agen perjalanan akan kalah bersaing dengan agen-agen perjalanan yang mampu mengendalikan dan memanfaatkan teknologi Internet ini sebagai media iklan untuk menjangkau konsumen dan media komunikasi untuk melayani konsumen.

Dampak Internet yang paling fundamental mungkin pada model usaha agen perjalanan itu sendiri.  Internet mungkin akan menuntut agen perjalanan untuk berfungsi lebih dari sekedar badan yang melakukan reservasi.  Tersedianya Internet bagi para konsumen mungkin akan mendorong para agen perjalanan untuk harus menawarkan nilai tambah lainnya bagi para konsumen.  Nilai tambah ini dapat berupa pengetahuan yang lebih mendalam mengenai tujuan wisata; agen perjalanan akan didorong untuk menjadi konsultan perjalanan.

Internet dan Agen Perjalanan: Teman?
Internet adalah sebuah fenomena yang membuka kesempatan yang sangat luas dan positif bagi dunia agen perjalanan Indonesia dan seluruh dunia.  Hal ini disebabkan Internet mampu:

1.  Meningkatkan minat untuk travel di kalangan masyarakat dunia.
Semakin tersedianya informasi mengenai daerah tujuan wisata akan meningkatkan minat masyarakat dunia untuk travel.  Yang jelas, kesenjangan informasi yang menimbulkan rasa khawatir dan ketidak-tahuan akan semakin berkurang, sehingga orang akan lebih mempunyai minat untuk travel ke daerah-daerah tujuan wisata yang sebelumnya tidak dipertimbangkan.  Contoh nyata:  pusat Web Bali Online banyak dikunjungi oleh orang dari Afrika Selatan (891 hits untuk bulan Oktober 1996).  Kemungkinannya kecil sekali bahwa orang-orang di Afrika Selatan sebelumnya mempunyai brosur mengenai Bali.  Ini akan meningkatkan minat travel orang di Afrika Selatan untuk travel ke Bali.

2.  Memperluas pasar.
Internet memungkinkan para agen perjalanan di Indonesia untuk menawarkan produknya secara langsung kepada para wisatawan dan agen perjalanan partner di negara-negara yang selama ini tidak terbuka.  
Berapa besar pasar ini?  Hasil survey Bali Online menunjukkan bahwa dari setiap dollar yang dibelanjakan oleh seorang wisatawan di Bali, ada satu atau satu setengah dollar lagi yang dibelanjakan oleh sang wisatawan di luar Bali.  Mungkin ini untuk membeli tiket pesawat, membeli paket tour di negaranya, dsb.  Kalau ini bisa ditawarkan langsung dari Indonesia (melalui Internet), berarti volume transaksi pariwisata Indonesia bisa meningkat secara drastis tanpa perlu meningkatkan jumlah wisatawan yang datang.

3.  Memperluas komunikasi untuk melayani konsumen.
Semakin luasnya pemakaian Internet memungkinkan komunikasi yang semakin luas antara supplier produk pariwisata, agen perjalanan, dan konsumen lebih dari jam buka kantor.  Astrindo yang memasang informasi perjalanannya di pusat Web Bali Online dapat dibaca oleh seluruh penjuru dunia 24 jam sehari.  Seorang wisatawan dari New York yang ingin diving di Bali dapat melihat daftar paket menyelam yang ditawarkan Bali Marine Sports 24 jam sehari.  Jam kantor Bali Marine di Bali adalah jam 9 malam sampai jam 5 pagi di New  York.
Dengan meningkatnya pilihan bagi konsumen, meningkatnya target pasar bagi supplier dan agen perjalanan, serta meningkatnya komunikasi antara supplier, agen perjalanan, dan konsumen, maka dunia usaha perjalanan akan berlangsung dengan semakin lancar, mengurangi kemungkinan salah pengertian dan konflik antara supplier, agen perjalanan, dan sang konsumen.  Pelaksanaan dunia usaha perjalanan akan semakin mudah.

Konklusi
Satu fakta yang jelas adalah bahwa Internet itu ada bersama kita, dan sudah dan akan terus merevolusionisasi komunikasi dunia.  Apakah kita suka atau tidak, komunikasi akan dipengaruhi oleh Internet.   Dunia pariwisata umumnya, dan usaha agen perjalanan khususnya, juga tidak akan luput dari dampak Internet ini.  Di satu pihak, Internet jelas merupakan suatu tantangan bagi agen perjalanan Indonesia, setidaknya untuk memanfaatkan media ini sebagai media iklan untuk menjangkau calon konsumen dan sebagai media komunikasi untuk melayani konsumen.  Selain itu, Internet mungkin dapat menggeser pola bisnis agen perjalanan ke arah konsultasi, dengan tuntutan pengetahuan yang lebih mendalam mengenai daerah-daerah tujuan wisata.

Di pihak lain, Internet mampu meningkatkan minat travel masyarakat dunia dan membuka peluang yang sangat tinggi yang sebelumnya tidak terjangkau.  Sebuah agen perjalanan di Indonesia bisa menjadi kekuatan global dengan seketika, menjangkau konsumen dari seluruh dunia, dengan pelayanan non-stop 24 jam.   Jumlah calon wisatawan yang meningkat, pelayanan yang meningkat, dan jangkauan pasar yang meningkat, jelas merupakan sesuatu yang sangat menarik bagi agen perjalanan Indonesia.