Kamis, 09 Juni 2011

Cinta

Cinta sejati itu menyembuhkan
Tidak menyakitkan
(Ibnu Athaillah)

Sesekali cinta menawarkan sisi lainnya. Melalui beberapa kisah pahlawan yang cintanya kandas tak sampai jadi nyata. Mungkin juga kita pernah mengalami. Sakitnya bisa jadi membekas dalam... namun tragedi seperti ini justru malah membawa pada nikmatnya menuju puncak keimanan. Dimana muara segala harapan hanya kembali pada Dia, Sang Pemberi Harapan. Moga cinta diantara kita kekal, karena Allah SWT.

Kita mengenal Muhammad bin Daud Al-Zhahiri dan juga Sayyid Quthub yang memiliki kisah romansa dengan seni cinta yang begitu indah. Mangapa mereka tetap bertahan dalam cinta? Meski pada akhirnya takdir berkata lain. Karena mereka bukan robot, karena mereka memahami bahwa jiwa tak bisa dibohongi. Melalui syair dan bait puisilah sang Imam Muhammad bin Daud Al-Zhahiri mengekspresikan cintanya yang tak sampai, dalam sakit nya yang parah hingga pada mendekati hari-hari wafatnya, seperti yang di kisahkan Ibnu Qoyyim al Jauziah.

Di penjara lah tempat Sayyid Quthub mengekspresikan cintanya, yang dengannya justru membawa pada puncak keimanan dan tumbuh semangat pengharapan yang tinggi kepada Tuhannya hingga muncullah karya fenomenalnya seperti di jelaskan Dr. Abdul Fatah Al-Khalidi yang menulis tesis master dan disertasinya tentang Sayyid Quthub.

Ada banyak puisi yang lahir dari penderitaan itu. Ia bahkan membukukan romansa itu dalam sebuah roman. Kebesaran jiwa, yang lahir dari rasionalitas, realisme dan sangkaan baik kepada Allah, adalah keajaiban yang menciptakan keajaiban. Ketika kehidupan tidak cukup bermurah hati mewujudkan mimpi mereka, mereka manambahkan harapan kepada sumber segala harapan, Allah!

Begitulah Sayid Quthub menyaksikan mimpinya hancur berkeping-keping, sembari
berkata, Apakah kehidupan memang tidak menyediakan gadis impianku, atau
perkawinan pada dasarnya tidak sesuai dengan kondisiku? setelah itu ia berlari meraih takdirnya, dipejara 15 tahun, menulis Fii Dzilalil Quran dan mati di tiang gantungan! Sendiri! Hanya sendiri!

Fa idzaa faroghta fanshob, Wa ilaa Rabbika farghob
(Isy kariman aw mut syahidan )

Ali Ibn Abdul Aziz berkata dalam syairnya:

Wahai orang yang berselimut kebahagiaan
Teruslah meneteskan air mata,
Menangislah dalam ketertawaan awan yang mencekam jiwa
Dunia penuh dengan aroma kebahagiaan, keindahan dan kedamaian
Berjuta cita-cita menyejukkan akal pikiran
Ketenangan, kenikmatan dan kebahagiaan selalu kurasakan
Setelah kuharamkan diri dari kelalaian

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.